Komodonews, komodo news, berita komodo

Kisah Ritual “Roka Bodi”, Pesta Perahu Baru Nelayan Borong


Foto : Alfred Tuname (2016)
Komodonews, komodo news, berita komodo

KOMODONES.INFO – “Tak kan ada ikan gurih di meja makan/ Tanpa ada jerih payah nelayan/Daging ikan sumber gizi bermutu tinggi/Diperlukan semua manusia/ Tiap malam mengembara di lautan/Ombak badai menghadang dan menerjang/Pak nelayan tak gentar dalam dharmanya/ Demi kita yang membutuhkan pangan”.

Itulah lagu “Pak Nelayan” yang terkenal di era 1990-an. Lagu tersebut selain merupakan propaganda makan ikan, tetapi juga tersirat apresiasi tinggi kepada para nelayan.

Ketika ada “kita yang membutuhkan pangan”, maka ada nelayan yang membutuhkan perahu, pukat, mesin dan lain-lain. Perangkat utama yang melekat dengan nelayan adalah perahu. Ada berbagai jenis perahu yang digunakan, tetapi bagi nelayan tradisional parahu yang terbuat dari kayu-lah yang menjadi andalan utama.

Nelayan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, NTT adalah nelayan tradisional. Nelayan Borong menggunakan perahu yang terbuat dari kayu. Lalu dipasang mesin yang disambung dengan as baling-baling. Jadilah perahu motor. Perahu biasanya dipesan dari orang-orang suku bajo, Labuan Bajo, Manggarai Barat yang masih memiliki kepandaian membuat perahu.

Nelayan Borong memiliki ritul tersendiri ketika untuk “meresmikan” perahu yang akan siap digunakan. Ritual tersebut disebut dengan “roka bodi”. Dalam bahasa Ende, kata roka artinya tolak atau dorong, kakta bodi dari bahasa Inggris, body. Terkait kata bodi yang diartikan sebagai badan perahu, merupakan kata serapan dari bahasa asing yang sudah akrab ditelinga nelayan. Hal itu berkaitan dengan alat-alat mesin perahu yang sering menggunakan kata-kata bahasa Inggris.

Roka bodi sendiri dimulai dengan acara doa pada malam hari atau debasebelum perahu baru didorong ke air sungai atau muara pada besok paginya. Doa itu dipimpin oleh seorang ustad. Setelah doa bersama, pada bagian dapan dan belakang bodi perahu akan disimpan tulang dan darah ayam putih dan bunga kelapa baru yang telah didoakan. Doa bersama tersebut melambangkan syukuran atas perahu baru sekaligus permohonan rezaki dan keselamatan bari nelayan yang menggunakan perahu tersebut. Setelah kegiatan doa bersama, perahu baru siap didorong ke sungai atau muara.

Acara dorong perahu dilakukan pada pagi hari. Saat itu, saudari yang sudah berkeluarga dari pemilik perahu akan membawa bendera (biasanya bendera merah putih) dan kain rawo (sarung khas orang Ende). Masing-masing saudara membawakan satu bendera dan satu kain rawo. Kain rawo diberikan kepada saudara yang memiliki parahu baru tersebut. Sedangkan bendera diikat sendiri oleh saudari-saudari pemilik perahu di tiang-tiang perahu.

Setelah pemasang itu selesai, keluarga dan kenalan yang diundang untuk dorong perahu bersiap tenaga untuk mendorong perahu. Yang mendorong bodi perahu adalah kaum laki-laki. Pada saat dorong bodi perahu, mereka saling memberi semangat dan serentak menyanyikan lagu bersyair “holo hela le hela … hela holo le hela”. Syair tersebut diulang terus-menerus sampai bagian depan bodi perahu mengenai air sungai atau muara.

Ketika bodi sampai di sungai atau muara, para kenalan dan keluarga yang mendorong bodi tersebut bersorak ria yang diekspresikan dengan saling menyiram satu sama lain. Ritual saling siram ini disebut dengan geba. Bodi perahu pun siap dipasang mesin dan pukat dan me-laut atau wa’u dalam istilah lazim nelayan Borong.

 

Penulis : Alfred Tuname (2016)
Editor    : Erny
Komodonews, komodo news, berita komodo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kisah Ritual “Roka Bodi”, Pesta Perahu Baru Nelayan Borong

log in

reset password

Back to
log in
Komodonews, komodo news, berita komodo