Komodonews, komodo news, berita komodo

Kenalkan “Keu Kanggong” di Riung, Flores, Provinsi NTT


Alfred Tuname. (Sumber: Akun Facebook Alfred Tuname)
Komodonews, komodo news, berita komodo

KOMODONEWS.INFO – Yang diharapkan oleh setiap orang asing adalah penerimaan. Penerimaan adalah pengakuan. Dalam pengakuan ini, perasaan terasing menjadi sirna sebab senyum dan sapa siap menjadi peristiwa yang menyenangkan.

Dari situlah awal perkenalan. Kata petuah, tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak cinta. Karenanya, perkenalan menjadi ritus awal pada momen perjumpaan. Ketika sudah dikenal, seseorang akan menerima seseorang yang lain dengan tangan terbuka.

Di Riung (Flores, NTT), khususnya di dataran Lengkosambi terdapat ritus kecil untuk menyambut seorang asing dan menjadi tamu rumah. Seorang tamu yang baru datang di sebuah tidak boleh memasuki dapur, apalagi bila orang tersebut baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah. Tamu tersebut hanya boleh memasuki ruang tamu sang pemilik rumah.

Bagi orang Lengkosambi, Riung, Kabupaten Ngada, selain sebagai tempat memasak, dapur juga memiliki nilai mistik. Dapur menjadi ruang yang selalu dekat dengan roh nenek moyang. Seseorang yang tak dikenal atau tamu yang memasuki ruang daput tanpa “permisi” maka ia akan mendapatkan sesuatu yang negatif atau bahaya dalam hidupnya. Seseorang akan terkena sakit bahkan meninggal bila saja nekad memasuki dapur tanpa permisi.

Bahkan ada saja kejadian-kejadian aneh yang menimpa orang asing atau tamu tersebut. Semua kejadian itu dipercaya sebagai perwujudan kemarahan nenek moyang terhadap tamu asing tersebut.

Untuk itu, orang Riung memiliki semacam ritual selamat datang kepada setiap orang asing atau tamu yang baru datang ke rumah dan bisa memasuki ruang dapur. Ritual itu sebut dengan keu kanggong. Ritual keu kanggong ini dilakukan di dapur. Caranya, dengan meniup/ meludah di tangan orang asing atau tamu tersebut (keu kanggong ngiso puput).

Seorang bapak atau ibu pemilik rumah akan memegang tangan mereka. Tangan mereka dihadapakan kepada pemilik rumah itu dengan telapak terbuka. Pemilih rumah akan mengucapkan semacam doa kepada nenek moyang lalu meniup atau lebih sering disebut menyembur tangan orang asing atau tamu tersebut. Setelah disembur, orang asing atau tamu tersebut mengusap wajahnya sendiri, menyentuh kepalanya kebelakang lalu mengosok tubuhnya hingga ke kaki secara simbolis. Gerakan itu sebagai simbol terlepasnya pemali dari tubuh orang itu.

Setelah melakukan keu kanggong atau sembur di dapur, seseorang boleh datang kapan saja ke rumah itu dan bisa memasuki ruang dapur. Ritual keu kanggong ini dilakukan hanya sekali untuk satu rumah yang baru didatangi. Dengan keu kanggong ngiso puput ini, jiwa raga seseorang disambut hangat oleh pemilik rumah dan bahkan roh-roh nenek moyang yang dipercaya hadir menjaga rumah.

Ritual selamat datang keu kanggong dalam budaya Riung ini merupakan warisan yang selalu dijaga oleh tiap generasinya. Dengan ritual tersebut, mereka menjaga budayanya sekaligus menjaga rumahnya sendiri.

Bagi mereka, rumah merupakan tempat yang hangat dan damai untuk berlindung dari orang asing yang hendak berbuat jahat. Oleh karena itu, ritual keu kanggong menjadi semacam “pintu budaya” untuk merangkul setiap orang. Sebab, setiap orang yang ada di dalam rumah adalah keluarga yang membawa rezeki dan kebahagian bagi semua penghuninya.

Akhirnya selamat datang di Lengkosambi, Riung.

Penulis: Alfred Tuname, 2016
Komodonews, komodo news, berita komodo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kenalkan “Keu Kanggong” di Riung, Flores, Provinsi NTT

log in

reset password

Back to
log in
Komodonews, komodo news, berita komodo