Kadis Andreas Optimis DI Bena Tetap Juara I Lomba Tingkat Nasional Tahun 2018


Andreas William Koreh duduk di tengah. (Foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com/Komodonews.info)

 

KOMODONEWS.INFO – Semua komponen diharapkan terlibat dalam pembentukan Komisi Irigasi (KI) Bendungan Bena di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

 

Pembentukan KI di Kabupaten TTS menjadi kebutuhan mendesak mengingat beberapa hari ke depan Dewan Juri Lomba Daerah Irigasi (DI) tingkat Nasional tahun 2018 akan turun untuk melihat dari dekat DI Bena.

Ketika babak presentasi DI Bena di Surabaya, provinsi Jawa Timur, Kamis (3/5/2018) bobot presentasenya hanya 20 persen, sisanya 80 persen akan ditentukan oleh Dewan Juri di lapangan.

Bagaimana kemenangan bisa di raih oleh DI Bena sebagai Juara I tingkat Nasional pada babak presentasi, kesiapan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk menyambut kedatangan Dewan Juri di lapangan, media ini merasa penting untuk mewawancarai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Andreas William Koreh (Andre) melalui sambungan WhatsApp (WA), Jumat (4/5/2018) Pkl. 09.21 WITA.

Apakah KI sudah terbentuk di Kabupaten TTS?

KI atau Komir terdiri atas Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas PUPR dan komponen lainnya termasuk Polisi dan TNI AD karena terkait dengan masalah keamanan saat pembagian air di Kabupaten TTS. Komir tingkat provinsi NTT telah dibentuk melalui SK Gubernur NTT, ketuanya Kepala Bappeda NTT, Sekretaris Komir ada di Dinas PUPR NTT.

Melihat dari komposisi dan personalia Komir di provinsi, apakah Bupati TTS boleh mencontohi kebijakan Gubernur NTT?

Tentu saja SK Gubernur NTT bisa jadi acuan jika Bupati TTS ingin membentuk Komir. Itu berarti Ketua Bappeda yang harus menjadi ketuanya karena berkaitan dengan hubungan lintas satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Bayangkan jika Kadis PUPR yang ketua, bagaimana caranya memerintah Dinas Pertanian, Perkebunan dan sebagainya?

Ada yang sempat mengatakan bahwa DI Bena berhasil keluar sebagai Juara I karena pihak Anda melakukan lobi-lobi dengan Dewan Juri, bagaimana menurut Anda?

Kami sama sekali tidak pernah melakukan lobi dengan siapapun. Proses perlombaan sangat fair. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk presentasikan DI yang diikutkan dalam lomba selama 30 menit, yang hendak bertanya pun diundi, sehingga menutup peluang menitipkan pertanyaan kepada teman, setelah itu komentar dari Dewan Juri, dan bagian akhir dari proses penilaian, Dewan Juri langsung menulis angka lalu memasukkan dalam kotak yang telah disediakan oleh panitia. Jadi Dewan Juri tidak memiliki kesempatan untuk melakukan rapat. Setelah terkumpul semuanya tinggal diakumulasi lalu keluarlah penilaiannya.

Soal bobot penilaian presentasi dan peninjauan lapangan yang jumlahnya berbeda jauh, apakah Anda menyetujuinya?

Kami tidak punya pilihan lain untuk tak setuju dengan bobot penilaian yang telah ditetapkan oleh Dewan Juri. Tentu saja hal tersebut sebagai ingatan bagi kami bahwa bobot dari presentasi kemarin hanya 20 persen, 80 persen nanti penilaian di lapangan. Kita berharap kondisi di lapangan paling tidak sama dengan apa yang telah dibeberkan. Saya pikir Dewan Juri sudah punya gambaran pasti bahwa kondisi lapangan tak berbeda jauh dengan presentasi kami.

Anda kok sangat optimis dengan fakta lapangan dan sikap dari Dewan Juri terhadap DI Bena?

Kami memang sangat optimis, sebab apa yang kami presentasikan sama dengan fakta lapangannya DI Bena.

Apa indikatornya?

Ini pertanyaan sangat menarik yang bisa mengeliminir praduga-praduga bahwa ada terjadi main mata antara pihak kami dengan Dewan Juri. Mengapa? Kami memang menggunakan videotron untuk mengeleminir presentasi yang semu. Videotron kan tidak bisa dihubungi, malah Dewan Juri merespons dengan mengatakan sangat bagus. Kemudian muncul statemen, wah ini DI di Jawa bisa iri. Kenapa? Karena air mengalir dengan jernih. Ini kan patut untuk diteladani, jangan dicederai dengan mengatakan masih ada lahan yang kering. Memang masih ada yang kering, semuanya masih berproses. Bahkan yang paling sulit jika kita tak mengetahui kekurangan diri sendiri.

Apakah bobot penilaian Dewan Juri kala presentasi bisa juga digunakan sebagai indikator kuat Anda mempertahankan predikat Juara I ketika babak presentasi yang bobotnya hanya 20 persen itu?

Nah ini pertanyaan yang kami nanti-nanti. Usai pengumumuman Dewan Juri tak ada lagi yang boleh dirahasiakan oleh siapapun. Faktanya begini:
a. DI Bena meraup nilai 79,73 jauh meninggalkan DI lainnya;
b. DI Bila peroleh 70,16; dan
c. DI Gumbaja dapat 69,00
Perbedaannya cukup signifikan. Karenanya kami tetap optimis nilai ini bisa dipertahankan, dan itu berarti DI Bena Juara I Lomba DI Tingkat Nasional Tahun 2018.

 

Penulis : V.J. Boekan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kadis Andreas Optimis DI Bena Tetap Juara I Lomba Tingkat Nasional Tahun 2018

log in

reset password

Back to
log in